Waspada Pertusis atau Batuk 100 Hari : Lengkapi Imunisasi DPT untuk Melindungi Anak
Waspada Pertusis atau Batuk 100 Hari : Lengkapi Imunisasi DPT untuk Melindungi Anak
Puskesmas Kutowinangun — Pertusis atau batuk rejan merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan yang sangat menular dan disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Penyakit ini dikenal sebagai batuk 100 hari karena batuk yang ditimbulkannya dapat berlangsung lama dan berpotensi menyebabkan komplikasi serius, terutama pada bayi dan anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Penularan pertusis terjadi melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap gejala pertusis perlu ditingkatkan, terutama ketika anak mengalami batuk berkepanjangan yang disertai serangan batuk berulang.
Gejala pertusis umumnya berkembang melalui tiga fase. Fase pertama atau fase kataral berlangsung sekitar 1–2 minggu dengan gejala menyerupai flu biasa, seperti pilek, bersin, dan batuk ringan. Selanjutnya, fase paroksismal berlangsung sekitar 2–4 minggu atau lebih, ditandai dengan serangan batuk hebat dan berulang yang terkadang disertai bunyi tarikan napas khas, muntah setelah batuk, serta wajah tampak kemerahan atau kebiruan. Pada fase konvalesen, gejala berangsur membaik, meskipun batuk masih dapat berlangsung selama beberapa minggu.
Pertusis tidak boleh dianggap sebagai batuk biasa karena dapat menimbulkan komplikasi, seperti pneumonia, kejang, gangguan pada otak, dan dehidrasi. Pada bayi, penyakit ini dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa. Pemeriksaan dan penanganan medis diperlukan apabila terdapat kecurigaan pertusis, terutama pada bayi atau anak dengan gejala berat.
Salah satu langkah utama untuk mencegah pertusis adalah melengkapi imunisasi DPT sesuai jadwal. Imunisasi dasar DPT diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan, kemudian dilanjutkan dengan imunisasi lanjutan atau booster sesuai jadwal imunisasi yang berlaku. Imunisasi membantu membentuk perlindungan terhadap penyakit difteri, pertusis, dan tetanus, sekaligus mengurangi risiko terjadinya penyakit berat.
Indonesia mencatat 415 kasus konfirmasi pertusis pada tahun 2022. Publikasi tersebut juga menyoroti pentingnya cakupan imunisasi dasar yang lengkap untuk mengurangi kerentanan anak terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Selain imunisasi, penerapan etika batuk dan bersin, menjaga kebersihan tangan, serta mengurangi kontak dengan orang yang sedang mengalami gejala infeksi pernapasan dapat membantu menekan risiko penularan. Orang tua juga perlu memperhatikan kelengkapan imunisasi anak dengan memeriksa buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) atau catatan imunisasi.
Apabila anak mengalami batuk yang terus-menerus, serangan batuk berulang, muntah setelah batuk, atau kesulitan bernapas, segera lakukan pemeriksaan ke fasilitas pelayanan kesehatan. Kesulitan bernapas, kebiruan, atau kondisi anak yang tampak sangat lemah memerlukan pertolongan medis segera.
Pengenalan gejala sejak dini dan kelengkapan imunisasi merupakan bagian penting dalam perlindungan kesehatan anak. Dengan pencegahan dan penanganan yang tepat, risiko penularan serta komplikasi akibat pertusis dapat dikurangi.
